Beda Gaya Co-working Space : BAKUSAPA

 

Jika sedang mencari tempat yang bagus untuk bekerja, berinteraksi, berkolaborasi, belajar, dan mengembangkan bakat, mari kita ciptakan Co-working Space atau “Ruang Kerja Bersama”. Caranya dengan saling berbagi sebuah “Ruangan” sebagai “Hub” pusat kegiatan ala kantor yang menyediakan kebutuhan standard seperti free wifi, scanner, printer, fax, ruang konferensi, library hingga personal locker.

 

Co-working Space tentunya berbeda dengan lingkungan kerja pada umumnya. Sebab kerja bersama disini biasanya bukan dari organisasi yang sama. Ada arsitek yang sedang meeting, lalu ada fashion designer yang sedang membuat konsep dan lain sebagainya. Yang pasti model kantor virtual di web dengan co-working space akan menekan biaya over-head operasional sebuah usaha baru.

Bagi perusahaan perusahaan pemula, memiliki sebuah kantor tentunya menjadi beban. Biasanya mereka menyiasatinya dengan menyewa. Namun untuk operasional sebuah kantor berukuran kecil di tengah kota pastinya akan terasa mahal. Ditambah lagi sifat usaha baru yang keuntungannya yang belum pasti, maka menyewa kantor dengan biaya operasional yang tinggi, sudah pasti bukan menjadi pilihan utama.

Inilah yang kemudian melatarbelakangi munculnya bisnis ruang kerja bersama atau co-working space. Dengan ruang kerja yang efisien, fasilitas lengkap, dan biaya sewa yang relatif murah, co-working space merupakan sebuah alternatif yang sangat menguntungkan. Pada awalnya, peminatnya cukup besar, sehingga melahirkan banyak pebisnis co-working space. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, bisnis ini meredup. Apa yang diangan-angankan para pebisnis ini ternyata tak terealisasi.

Dalam sebuah laporan tirto.id, satu demi satu usaha co-working Space gulung tikar. Satu diantaranya, Comma (Collaboration Matters). Perintis bisnis co-working space di Indonesia itu sudah tidak sanggup lagi menjalankan bisnisnya setelah sekian lama merugi. Comma yang didirikan pada November 2012, akhirnya tutup pada Maret 2016.

Dalam perjalanan bisnis co-working space, Comma merupakan penanda dalam sejarah. Comma menjadi co-working space pertama yang ada di Jakarta, sekaligus mengawali semangat kolaborasi para start-up. Setelah Comma hadir lalu menyita perhatian para start-up, freelancer dan self employe, banyak co-working space tumbuh di ibukota. Sayangnya, Comma tidak bisa bertahan lama di bisnis ini. Para pendiri Comma, Ario Pratomo, Michael R. Tampi, Rene Suhardono, Yoris Sebastian, Dondi Hananto dan Dodong Cahyono memutuskan mengucapkan selamat tinggal. Tutupnya Comma tentu mengejutkan dan sekaligus membuat orang penasaran.

 

“Salah satu alasan banyaknya usaha co-working space yang gulung tikar adalah soal sepinya peminat.”

 

 

Pertama, soal model usaha co-working space, biasanya dimiliki oleh pemodal (investor) yang lebih memilih membentuk Perseroan Terbatas daripada membangun kepemilikan kolektif (kooperasi). Kedua, soal pangsa pasar atau target market yang luput dilihat bahwa bisnis masa depan tentunya di ramaikan oleh komunitas – komunitas (ciri khas generasi Gen Z). Ketiga, co-working space biasanya identik dengan industri start-up (aplikasi).

Menurut hemat saya, persoalan yang lain yang dihadapi co-working space masih bisa dicarikan solusinya, tapi satu-satunya yang membuat co-working space gulung tikar adalah soal kepemilikan dan hilangnya spirit co-working space yang mengusung saling berbagi ruangan kantor. Banyak pemilik usaha co-working space hanya dimiliki segelintir orang kaya (investor), bukan dimiliki bersama secara kolektif. Padahal, jualan utama mereka sesungguhnya berbagi ruang (kantor). Semestinya, co-working space tetap dibangun atas dasar berbagi, bisa dimiliki oleh semua orang. Sifatnya yang terbuka dan sukarela akan menuntunnya pada tujuan besar ; kolaborasi- berdaya bersama.

 

“Menurut hemat saya, persoalan yang lain yang dihadapi co-working space masih bisa dicarikan solusinya, tapi satu-satunya yang membuat co-working space gulung tikar adalah soal kepemilikan dan hilangnya spirit co-working space yang mengusung saling berbagi ruangan kantor.”

 

 

Untuk itulah usaha co-working space harus ber-bentuk kooperasi dan masing masing pemilik usaha (kooperasi) secara sadar wajib membesarkan co-working space yang menjadi usaha kolektifnya -sebagai bentuk berkolaborasi berdaya bersama-. Dan yang paling penting, co-working space ini juga punya konsep sebagai tempat pemasaran sekaligus promosi pelaku UKM, petani dan masyarakat kampung kota. Dengan adanya ruang bersama (hub) yang pasti, diharapkan bisa memotivasi para perajin (UKM), petani dan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Di sisi lain keberadaan co-working space ini dapat menjadi wadah atau sarana untuk edukasi dan berbagi pengetahuan untuk masyarakat luas. Jalannya roda usaha sepenuhnya dari aktivitas komunitas para pemiliknya.

Inilah yang sedang dirintis oleh Bakusapa – Ruang Kolaborasi, Badan Usaha dari Koperasi Trisakti Bhakti Pertiwi. Kegiatannya sebanyak mungkin menjadi ruang diskusi komunitas. Ada banyak cerita kedai kopi dimiliki secara kolektif -beberapa juga menerapkan co-working space- tapi dalam catatan saya, tidak berlebihan jika menyebut hanya konsep Bakusapa : Ruang Kolaborasi yang bisa menjawab kegelisahan soal sepinya pengunjung co-working space. Mengapa? Karena hanya bakusapa yang menerapkan prinsip kepemilikan kooperasi dan mengawal pasokan kopi dari hulu (bahan baku) hingga hilir (penyajian) kopi. Bakusapa akhirnya bukan sekedar co-working space, melainkan ruang kolaborasi bersama.

Jika demikian, tunggu apalagi…

 

MARI BERKOLABORASI.

 

 

Oleh: Amrul Hakim (Bin Hatta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *